10 Jan 2012

Bintang Dan Sekstan

Para pelaut jaman dahulu sedikit demi sedikit mempelajari bagaimana cara berlayar lepas pantai.

atas : Sekstan, seorang jurumudi memperhatikan horizon melalui kaca pengintip (kanan, atas). Ia menggeser lengan indeks (dengan cermin indeks) sehingga dapat melihat bayangan matahari yang dipantulkan oleh cermin indeks ke dalam gelas horizon (tengah). Bayangan matahari disesuaikan dengan menggeser-geser lengan indeks sampai posisinya tepat pada horizon (bawah). Selanjutnya ia dapat membaca ketinggian matahari pada tangkai skala.

Bilamana para pelaut jaman dahulu berlayar jauh dari pantai dan tak dapat melihat daratan, bagaimanakah mereka mengetahui posisi mereka dan bagaimanakah menentukan arah pelayaran ? Mereka mulanya tidak tahu apapun. Kemudian mereka belajar dari alam sekitarnya. Misalkan, bila terlihat awan berkumpul di satu titik tertentu, mereka dapat menduga bahwa ada daratan di bawahnya. Seterusnya mereka menemukan beberapa alat pembantu, seperti tiang atau tali pengukur, serta menggunakan jenis-jenis burung. Bila dilepaskan, burung-burung itu akan terbang menuju daratan yang terdekat. Selain itu dengan berpedoman matahari yang terbit dari timur dan tenggelam di sebelah barat, arah-arah lainnya dapat mereka temukan berdasarkan ketinggian matahari di atas kaki langit (horizon).

Gambar bawah : kompas pelaut dijaman dahulu
Pada pelayaran malam hari, pelaut-pelaut bahari itu menjadikan bintang sebagai pedoman. Mereka tahu bahwa Bintang Kutub tetap berada pada tempatnya di langit sebelah utara, dan bahwa rasi Beruang Besar bergerak mengelilinginya. Di lihat dari Delta Nil, pada titik terendah, Beruang Besar menyentuh kaki langit. Semakin orang berlayar ke utara, semakin tinggi kedudukan bintang itu. Jadi, dengan mengukur ketinggian sebuah bintang (sudutnya di atas kaki langit), mereka dapat menemukan berapa jauh ke utara atau ke selatan ketika posisi mereka sedang berada di laut.

Pelaut sekarang menggunakan sekstan untuk mengukur ketinggian matahari atau bintang. Dahulu, mungkin para pelaut merentangkan lengan mereka dan menghitung berapa jari jauhnya bintang di atas horizon.

Ptolemi adalah seorang yang ahli di bidang astronomi purba yang pertama kali membagi peta dunia dengan garis-garis lintang dan bujur. Garis lintang mengelilingi bumi sejajar dengan khatulistiwa. Garis bujur mengelilingi bumi dari utara ke selatan. Pelaut sekarang dapat menggambarkan posisi mereka di laut, menurut derajat lintang utara dari khatulistiwa, dan derajat bujur timur atau barat dari suatu titik tertentu.

keterangan gambar : papan pedoman, suatu alat untuk mencari posisi kapal. Paku-paku di selipkan untuk menunjukkan berapa kali setengah jam lamanya kapal berlayar pada suatu arah tertentu. Kecepatan yang di taksir dimuatkan ke dalam empat baris lekuk yang terletak didasar papan. Setiap pelayaran yang dilakukan, di pelajari melalui papan pedoman ini.

Tapi dulu tidak ada suatu cara untuk menemukan garis bujur sebuah kapal, meskipun matahari dan bintang nampak (Garis lintang pun tidak dapat ditemukan kalau langit sedang mendung/gelap). Ada cara lama untuk menduga posisi sebuah kapal, yaitu dengan menaksir kecepatannya dengan menggunakan gelas-waktu sehingga di ketahui lamanya perjalanan tersebut.

Atas : Menemukan posisi kapal dengan sekstan. Jurumudi memilih sebuah bintang. Dari dalam tabel ia menemukan titik di bumi, tempat bintang itu terletak di atasnya. Di atas peta, titik itu ditandai sebagai "titik bintang". Kemudian ia menggunakan sekstan untuk mengukur besar derajat bintang itu dari zenith, di posisi kapalnya. (Zenith adalah titik di langit, tepat di atas suatu benda). Jurumudi tahu bahwa setiap derajat dari sudut itu sama dengan 60 mil laut dari "titik bintang". Jadi, bila sudut pada sekstan menunjukkan 30, berarti posisi kapalnya adalah 30 x 60 = 1.800 mil laut dari "titik bintang".
Kemudian ia menggambar sebuah lingkaran dengan berpusatkan "titik bintang" di atas peta, dengan radius 1.800 mil laut (lingkaran besar, diagram bawah). Lalu ia mengulangi proses yang sama dengan bintang yang lain, dan menggambar lingkaran kedua. Kini tahulah ia bahwa posisi kapalnya adalah pada salah satu tempat dimana kedua lingkaran itu bertemu. Jarak antara keduanya mungkin ratusan mil. Untuk mengetahui pada titik pertemuan yang mana posisi kapal mereka sebenarnya berada, hanya dipergunakan cara penaksiran yang kasar saja.
Barulah setelah orang menemukan chronometer (jam yang sangat teliti) pada abad ke 18, para pelaut dapat menemukan posisi kapal mereka dengan ketepatan yang sangat baik.

Pengukuran seperti ini mulai disempurnakan pada abad ke-16. Seutas tali yang disimpul dengan jarak sama diikatkan pada sepotong kayu. Seseorang melemparkan kayu tersebut keluar kapal dan menghitung berapa simpul yang menyelinap melalui jari-jarinya selama satu menit. Bila ia menghitung 5 simpul (knot), berarti kapal itu berlayar dengan kecepatan 5 knot (5 mil laut per jam).


  • sumber : pustaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...